Endometriosis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Endometriosis menunjukkan adanya jaringan endometrium fungsional di suatu tempat yang abnormal, diluar rongga uterus. Endometriosis ini dapat ditemukan diantara serabut otot miometrium. (adenomiosis atau endometriosis uteri), atau di berbagai lokasi di rongga panggul.
Insiden endometriosis sulit dipastikan, karena pada banyak kejadian, kelainan ini barn ditemukan pada laparoskopi ketika pasien mengeluh infertilitas atau nyeri abdomen yang samar-samar. Diperkirakan endometriosis mengenai antara 1 dan 7 persen wanita pada masa reproduktif. Endometriosis lebih sexing didapati pada wanita infertile atau yang menunda melahirkan hingga usia 30 tahun.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana terjadi perubahan pada endometriosis
2. Tujuan Khusus
• Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian dari endometriosis
• Mahasiswa mampu menjelaskan gambaran klinis endometriosis
• Mahasiswa mampu menjelaskan cara penanganan endometriosis
• Mahasiswa mampu menjelaskan patologi endometriosis

BAB II
PEMBAHASAN

A. Defenisi
Endometriosis, adalah satu keadaan dimana jaringan endometriosis yang masih berfungsi di luar kavum uteri. (menurut Sarwono Prawirohardjo, 1999).
Pada endometriosis jaringan endometriosis, ditemukan diluar kavum uteri dan diluar miometrium. Menurut urutan yang tersering endometrium yang ditemukan di tempat-tempat sebagai berikut:
1. Ovarium
2. Peritoneum dan Ligamentum sakrouterinum, kavum Douglasi; dinding belakang uterus, tuba Fallopi, plikavesikouterina, ligamentum rotondum dan sigmoid;
3. Septum rektovaginal
4. Kanalis inguinalis
5. Apendiks
6. Umbilikus
7. Servile uteri, vagina, kandung kencing, vulva, perineum
8. Parut laparotomi
9. Kelenjar limpe,dan
10. Walaupun sangat jarang, endometriosis dapat ditemukan dilengan, paha, pleura dan pericardium.

B. Etiologi
Bagaimana endometrium mencapai lokasi ektopik tidak seluruh dipahami. Adenomiosis mungkin disebabkan oleh infiltrasi secara langsung, atau penyebaran jaringan endometrium lewat pembuluh limfe ke miometrium. Endometriosis ekstrauteri mungkin disebabkan oleh perjalanan retrograd jaringan endometrium melalui sepanjang tuba fallopi sewaktu menstruasi. Sekarang diyakini bahwa pada kebanyakan wanita terjadi menstruasi retrograp, tetapi perkembangan lesi selain modul endometrium sementara hanya terjadi pada beberapa wanita. Mentruasi retrograde, menjelaskan temuan bahwa kebanyakan lesi endometrium terdapat pada ovarium atau cut de sac (kantong Douglas). Penyebaran melalui pembuluh limfe dan hematogen mungkin merupakan penjelasan terhadap deposit pada tempat-tempat yang jauh dan jarang misalnya, di umbilicus.
Sekali jaringan endometrium viabel mencapai dan melekat pada lokasi ektopik, masih harus, dijelaskan mengapa jaringan dapat terns hidup dan tumbuh dilokasi tersebut, bukan dihilang oleh makrofag. Teori barn menyatakan bahwa ada suatu defek imunitas seluler yang memungkinkan jaringan endometrium tetap dapat hidup. Agar dapat tumbuh pada tempat¬tempat ektopik ini, jaringan endometrium harus berespon terhadap siklus progesterone. jika di lingkungan estrogen berlangsung konstan, seperti pada kehamilan, lesi ini cenderung mendapat serangan dan makrofag dan menjadi fibrotik.

C. Histogenesis
Teori histogenesis dari endometriosis yang paling banyak penganutnya adalah teori dari Sampson. Menurut teori ini, Endometriosis terjadi karena darah haid mengalir kembali ( regurgitasi ) melalui tuba kedalam rongga pelvis. Sudah di buktikan bahwa dalam darah haid didapati sel-sel endometrium yang masih hidup. Sel-sel endometrium yang masih hidup ini kemudian dapat mengadakan implantasi di pelvis.
Teori lain mengenai histogenesis endometriosis dilontarkan oleh Robert Meyer. Pada teori ini dikemukakan bahwa endometriosis terjadi karena rangsangan pada sel-sel epitel berasal dari selom yang dapat mempertahankan hidupnya didaerah pelvis. Rangsangan ini akan menyebabkan metaplasi dari sel-sel epitel itu, sehingga terbentuk jaringan endometrium. Teori dari Robert Meyer akhir-akhir ini semakin banyak penantangnya. Di samping itu masih terbuka kemungkinan timbulnya endometriosis dengan jalan penyebaran melalui jalan darah atau limfe, dan dengan implantasi langsung dari endometrium pada saat operasi.

D. Angka Kejadian
Endometriosis selama kurang lebih 30 tahun terakhir ini menunjukkan angka kejadian yang meningkat. Angka kejadian antara 5-15% dapat ditemukan diantara semua operasi pelvik. Endometriosis jarang didapatkan pada orang-orang Negro, dan lebih sering didapatkan pada wanita-wanita dari golongan sosio-ekonomi yang kuat. Yang menarik perhatian ialah bahwa endometriosis lebih sering ditemukan pada wanita yang tidak kawin pada umur muda, dan yang tidak mempunyai banyak anak. Rupanya fungsi ovarium secara Sikhs yang terns menerus tanpa diselingi oleh kehamilan, memegang peranan dalam terjadinya endometriosis.

E. Patologi
Gambaran mikroskopik dari endometriosis sangat variabel. Lokasi yang sering terdapat ialah pada ovarium, dan biasanya disini didapati pada kedua ovarium. Pada ovarium tampak kista-kista biro kecil sampai kista besar (kadang-kadang sebesar tinju) berisi darah tua menyerupai coklat (kista coklat atau endometrioma).
Darah tua dapat keluar sedikit-sedikit karena luka pada dinding kista, dan dapat menyebabkan perlengketan antara permukaan ovarium dengan uterus, sigmoid dan dinding pelvis. Kista coklat kadang-kadang dapat mengalir dalam jumlah banyak kedalam rongga peritoneum karena robekan dinding kista, dan menyebabkan acute abdomen . Tuba pada endometriosis biasanya normal, pada salah satu atau kedua ligamentum sakrouterinum, pada kavum Douglasi, dan pada permukaan uterus sebelah belakang dapat ditemukan satu atau beberapa bintik sampai benjolan kecil yang berwarna biru – biruan. juga pada permukaan sigmoid atau rectum sering kali ditemukan benjolan yang berwarna kebiru-biruan ini. Sebagai akibat dari timbulnya perdarahan pada waktu haid dari jaringan endometriosis, mudah sekali timbul perlekatan antara alat-alat disekitar kavum Douglasi.

F. Gambaran Klinis
Gejala-gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini ialah :
1) Nyeri perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi pada dan selama, haid (dismenorea )
2) Dispareunia.
3) Nyeri waktu defekasi khususnya pada waktu haid
4) Poli- dan hipermenore
5) Infertilitas

G. Diagnosis
Diagnosis biasanya dibuat atas dasar anamnesis dan pemeriksaan fisik, dipastikan dengan pemeriksaan laparoskopi. Kuldoskopi kurang bermanfaat terutama jika kavum Douglasi ikut Serta dalam. endometriosis. Pada endometriosis yang ditemukan pada lokasi seperti forniks vaginae posterior, perineum, parut laparotomi, dan sebagainya, biopsi dapat memberi kepastian mengenai diagnosis. Pemeriksaan laboratorium pada endometriosis tidak memberi tanda yang khas, hanya apabila ada darah dalam tinja atau air kencing pada waktu, haid dapat menjadi petunjuk tentang adanya endometriosis pada rektosigmoid atau kandung kencing. Sigmoidoskopi dan sistokopi dapat memperlihatkan tempat perdarahan pada waktu haid. Pembuatan foto Roentgen dengan memasukkan barium dalam kolom dapat memberi gambaran dengan filling degect pada rektosigmoid dengan batas¬-batas yang jelas dan mukosa yang utuh. Laparoskopi merupakan pemeriksaan yang sangat berguna untuk membedakan endometriosis dari kelainan-kelainan di pelvis. Untuk menentukan berat ringan endometriosis digunakan klasifikasi dari Amerika Fertility Society.

H. Penanganan
Penanganan endometriosis terdiri atas pencegahan, pengawasan saja, terapi hormonal, pembedahan, dan radiasi.
Terapi Hormonal kini dianjurkan tiga jenis regimen untuk pengobatan hormonal. Pengobatan ini dapat menekan atau mengurangi sintesis, dan pelepasan estrogen. Akibatnya menstruasi berhenti. Terapi ini menimbulkan penghambatan pertumbuhan lesi lebih lanjut, sehingga memungkinkan pertambahan tubuh untuk mengabsorpsi isi lesi dan menyebabkan fibrosis.
Pengobatan hormonal ini adalah:
• Danazol
• Gonadotrophin-relesing hormone agonist (GnRHa)
• Gestrinon

Ad.1. Danazol
Danazol, suatu derivat isoxazol dari 17-a- etinil testoreron, dapat mengurangi jumlah receptor gonatrophin releasing hormone dikelenjar hipofisis dan menyebabkan penurunan kadar sex hormone binding globulin (SHBG). Penurunan SHBG menyebabkan peningkatan testosteron bebas dan penurunan estradiol yang tidak terikat. Danazol mungkin juga bekerja secara pada ovarium untuk mengurangi sintesis steroid.
Danazol diberikan dalam dosis 200mg, 2-4 kali sehari selama 3-12 bulan. Biasanya gejala berkurang pada 2-6 minggu pada tiga perempat wanita yang diobati. Efek danazol terhadap lesi endometriosis akan dibicarakan kemudian efek buruknya adalah:
• Ammore pada 60 persen wanita dan sisanya terjadi oligomenore.
• Pertambahan berat badan, sering >3kg.
• Kulit berminyak atau akne pada 20 persen wanita
• Suara menjadi dalam pada 10 persen wanita.
Ad.2. GnRH agonis
GnRH agonis membuat gonatropin hipofisis menjadi tidak sensitive terhadap rangsangan GnRH endogen, sehingga mengakibatkan supresi sekresi steroid dari ovarium. Obat ini diberikan dengan dosis 200mg intranasal dua kali sehari selama 3-6 bulan atau dalam bentuk injeksi kerja panjang setiap bulan. Efek terhadap ebdometrosis sama dengan danazol. Efek samping adalah :
• Hampir semua wanita mengalami wajah merah (hot flushes) yang mungkin berat.
• Tujuh puluh persen wanita mengalami amenore
• Tiga persen wanita mengalami kehilangan masa tulang 2-4 persen selama 6 bulan : keadaan ini bersifat reversible. Akan tetapi, lebih sedikit pasien lagi yang di laporkan mengeluh efek samping dibandingkan dengan yang di timbulkan oleh danazol.
Ad.3. Gestrinon
Ini merupakan ‘progestogen generasi baru’ hormone ini diberi dosis 1,2 mg dua kali seminggu dan, pada studi awal, tampaknya sama efektif dengan danazol. Pertambahan berat badan terjadi pada 50 persen wanita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: