WANITA HAMIL DENGAN PENYAKIT JANTUNG

WANITA HAMIL DENGAN PENYAKIT JANTUNG

Penanganan

Penanganan wanita hamil dengan penyakit jantung, yang sebaiknya dilakukan dalam kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau kardiolog, banyak ditentukan oleh kemampuan fungsionil jantungnya.

Kelainan penyerta sebagai faktor predisposisi yang dapat memperburuk fungsi jantung ialah: 1) peningkatan usia penderita dengan penyakit jantung hipertensi dan superimposed preeclampsia atau eklampsia; 2) aritmia jantung atau hipertrofi ventrikel kiri; 3) riwayat dekompensasi kordis; 4) anemia.

Sebaliknya hipertensi juga tidak baik, terutama pada wanita dengan septum terbuka. Apabila hal-hal tersebut di atas tidak dicegah, maka penderita masuk ke dalam kelas yang lebih tinggi. Kenaikan berat badan yang berlebihan, infeksi serta retensi air harus dicegah, dan anemia harus diobati.

Pengobatan dan penatalaksanaan penyakit jantung dalam kehamilan tergantung pada derajat fungsionilnya, dan ini harus ditentukan pada setiap kunjungan periksa hamil.

Kelas I

Tidak ada pengobatan tambahan yang dibutuhkan

Kelas II

Umumnya penderita pada keadaan ini tidak membutuhkan pengobatan tambahan, tetapi mereka harus menghindari aktifitas yang berlebihan, terutama pada kehamilan usia 28-32 minggu. Bila kondisi sosial tidak menguntungkan atau terdapat tanda-tanda pemburukan jantung, maka penderita harus dirawat.

Kelas III

Yang terbaik bagi penderita dalam keadaan seperti ini adalah dirawat di rumah sakit selama hamil, terutama pada usia kehamilan 28 minggu. Biasanya dibutuhkan pemberian diuretika.

Kelas IV

Penderita dalam keadaan ini mempunyai risiko yang besar dan harus dirawat di rumah sakit selama kehamilannya.

Para penderita kelas I dan terbanyak penderita kelas II dapat meneruskan kehamilan sampai cukup bulan dan melahirkan per vaginam. Selama kehamilan, persalinan dan nifas penderita harus dalam pengawasan yang ketat. Pencegahan timbulnya dekompensasi kordis harus diusahakan sebaik-baiknya oleh dokter­dokter yang bersangkutan dan juga oleh penderita sendiri. Wanita harus tidur malam cukup, sekurang-kurangnya 8-10 jam, dan istirahat baring sekurang-kurangnya setengah jam setiap kali setelah makan dengan diit rendah-garam, tinggi protein, dan pembatasan masuknya cairan. Kegiatan rumah tangga dan kegiatan sosial perlu dibatasi. Pemeriksaan antenatal dilakukan 2 minggu sekali dan setelah kehamilan 36 minggu sekali seminggu. Sebaiknya wanita dirawat kira-kira I minggu sebelum harapan partus, sedapatnya perawatan dilakukan di rumah sakit yang mempunyai kardiolog atau internis.

Dekompensasi kordis biasanya terjadi perlahan-halan dan dapat dikenal apabila perhatian secara terus menerus ditujukan kepada beberapa gejala tertentu. Mackenzie menyatakan, yang kemudian disokong oleh Hamilton dan Thomson bahwa terdengarnya ronki tetap, di dasar paru-paru, yang tidak hilang setelah penderita menarik napas dalam dua atau tiga kali, merupakan gejala permulaan dari gagal jantung. Tanda-tanda lain bagi gagal jantung yang berat ialah kurangnya kemampuan penderita secara mendadak untuk melakukan pekerjaan sehari-hari, dyspnoe d’effort, serangan sesak napas dengan batuk-batuk dan hemoptoe, juga edema yang progresif dan takikardi.

Apabila timbul gejala-gejala dekompensasi kordis, wanita harus segera dirawat dan digolongkan ke dalam kelas satu tingkat lebih tinggi. penderita harus istirahat baring dan diberi pengobatan dengan digitalis. Dalam persalinan diperlukan pengawasan khusus dan sedapat-dapatnya diusahakan partus pervaginam. Dan pelbagai penye­lidikan ternyata bahwa partus per vaginam menunjukkan angka morbiditas dan mortalitas ibu yang lebih rendah. Seksio sesarea hanya dilakukan atas indikasi obstetrik, seperti plasenta previa dan disproporsi sefalo-pelvik.

Kala persalinan biasanya tidak berbahaya. Rasa nyeri dan penderitaan perlu dikurangi, lebih-lebih apabila persalinan diperkirakan akan berlangsung cukup lama. Pemberian sedasi dan analgesi dengan derivat morfin dapat menguntungkan ibu. Pendekatan secara psikologis supaya ibu tetap tenang dan merasa aman mempunyai pengaruh yang sangat baik. Wanita ditidurkan setengah duduk apabila posisi ini lebih menyenangkan baginya. Untuk mencegah timbulnya dekompensasi kordis sebaiknya dibuat daftar pengawasan khusus untuk pencatatan nadi dan pernapasan secara berkala: dalam kala I setiap 10-15 menit dan dalam kala II setiap 10 menit. Apabila nadi menjadi lebih dari 100 per menit dan pernapasan lebih dari 28 per menit, lebih-­lebih apabila disertai sesak napas, maka keadaan sangat berbahaya (dekompensasi kordis membakat) dan wanita harus diobati dengan digitalis. Biasanya wanita disuntik intravena perlahan-lahan dengan delanosid (cedilanid) 1,2 mg sampai 1,6 mg dengan dosis permulaan 0,8 mg. Jika perlu, suntikan dapat diulang satu atau dua kali lagi dengan selang waktu satu sampai dua jam. Disamping itu pemberian oksigen, morfin (10-15 mg), dan diuretikum, seperti furosemid (Lasix), bermanfaat pula. Apabila sungguh-sungguh sudah terjadi dekompensasi, maka terapinya sama seperti tersebut di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: